Peer Support adalah Obat Terbaik untuk Seorang Broken Home

Keluarga adalah sebenar-benarnya rumah. Selalu jadi tempat ternyaman untuk kembali pulang, Tetapi, keluarga juga bisa hanya menjadi pemupuk luka, yang akhirnya meledak menjadi air mata. Saat berada di luar rumah, merasakan dunia begitu ramah terhadap diri. Cita-cita atau impian tidak mendapat dukungan dari keluarga menjadikan seorang anak merasa terhambat perkembangan dirinya. Selalu bersikap mengkritik tanpa henti, berucap tentang hal-hal buruk yang menganggap anak tidak akan mampu mencapai mimpi-mimpinya tersebut. Sebesar apapun usaha seorang anak, apabila tidak sesuai dengan keinginan atau ekspetasi orang tua, tetap saja tidak ada apresiasi yang terlontarkan. Hanya cemooh yang akan menanti diri seorang anak. Ini yang bisa disebut Toxic Family.

Ketika salah satu anggota keluarga menjadi dominan, sementara anggota keluarga yang lain saling membanding-bandingkan antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain. Setiap orang memiliki potensi diri yang berbedam tidak bisa di sama ratakan. Keberadaan Toxic Family dapat menjadikan seorang anak untuk lebih nyaman berada di luar rumah daripada harus berada di lingkungan sekitar keluarga nya. Seorang anak merasa ingin memutuskan hubungan dengan keluarga nya, akibat merasa tidak pernah diberi afeksi sedikit pun. Anak akan merasa cemas setiap kali memikirkan akan berinteraksi dengan keluarga nya. Relasi dengan keluarga menjadi renggang. Situasi semakin tidak sehat akibat permasalahan komunikasi antar anggota keluarga. Mungkin ini bisa dikatakan lingkungan yang “beracun”. Selalu memandang negatif dan membuat situasi menjadi pesimis. Banyak orang tua tidak menyadari, bahwa ucapan kasar dan tidak menunjukkan kasih sayang termasuk bentuk kekerasan terhadap anak.

Kondisi seperti ini akan menimbulkan berbagai dampak yang akan dirasakan oleh seorang anak akibat berada di lingkungan keluarga yang toxic, dimana seorang anak akan berperilaku destruktif terhadap dirinya, sulit menerima respon positif, sering menyangkal emosi-emosi dalam dirinya, serta trust issue. Adapun lebih bahayanya lagi, seorang anak berisiko mengalami mental illness. Adapun jenis-jenis mental illness yang biasanya dialami oleh seseorang seperti depresi, gangguan kecemasan, dan lain sebagainya. Penyakit mental dapat dialami oleh siapapun, tidak memandang usia berapapun. Kondisi kesehatan mental seseorang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam bersosialisasi dengan orang lain.

Oleh karena itu, dibutuhkan mental support yang dapat membangkitkan potensi diri seorang anak dari keterpurukan, seperti peer support. Seseorang akan lebih nyaman apabila bergabung atau berteman dengan orang-orang yang satu frekuensi. Sehingga, mereka berpendapat bahwa, dirinya tidak akan nyaman apabila bergabung dengan orang-orang yang berperilaku baik. Adapun, seseorang tersebut akan lebih memilih bergabung dengan mereka yang memiliki sifat yang sama, yang tidak menjadi hal aneh dan dianggap wajar. Mereka yang memiliki permasalahan yang sama akan merasakan adanya hubungan satu sama lain dan saling memberikan dukungan (support). Dukungan tersebut berupa saling memberikan semangat dan pujian. Saling menguatkan dan meyakinkan, bahwa mereka adalah individu yang pantas untuk dicintai, diterima, serta berharga untuk dunia.

Mereka yang memiliki hubungan yang satu frekuensi akan tidak segan untuk menemani seseorang saat seseorang tersebut membutuhkan bantuan, seperti meminjamkan beberapa barang, uang, dan lain sebagainya. Dukungan-dukungan dari orang-orang yang memiliki permasalahan yang sama inilah yang membuat mereka dapat menerima dirinya apa adanya, mendapatkan bimbingan dan saran berdasarkan pengalaman dari orang-orang yang satu frekuensi. Mereka lebih mampu menghadapi tekanan-tekanan berupa komentar negatif mengenai dirinya dan berusaha menyikapinya dengan perasaan yang tenang. Oleh karena itu, mereka menerima berbagai pendapat negatif tentang dirinya dan berusaha merespon dengan menunjukkan perilaku terpuji di hadapan orang-orang yang berkomentar negatif tersebut.

Komentar